KABAR GARUNG LOR (KGL). SARANA INFORMASI DAN HIBURAN WARGA GARUNG LOR. BERSAMA BERBAGI BERITA. SEDULURAN SAK LAWASE.

Wednesday, March 14, 2018

SEJARAH DESA GARUNG LOR


            Setiap tempat pasti mempunyai sejarah atau asal usul nama tempat tersebut, tak terkecuali desa Garung Lor. Jika sedulur-sedulur semua coba mencari di google mengenai sejarah desa Garung Lor pasti sedulur semua akan mendapatkan keterangan seperti ini seperti dilansir dari Wikipedia sebagai berikut;
"Garung lor sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu, saat beberapa murid dari Kanjeng Sunan Muria dan Sunan Kudus turun gunung, yaitu di antaranya Mbah Jaelan, mbah Dul Mufakattan, dan lain sebagainya. Kemudian memberi nama daerah yang sekarang bernama Garung Lor. Areanya terletak di antara dua jalan utama menuju kota Jepara. Disebelah selatan jalan begitu hijaunya dengan area persawahan. Dan disebelah utara, pemukiman penduduk yang tertata dengan rapi dengan jalan-jalan yang sudah beraspal."
Karena kurangnya informasi sejarah dalam babakan desa Garung Lor  mungkin hanya penjelasan seperti di atas yang saat ini bisa sedulur dapatkan. Pasti sedulur-sedulur semua kurang puas dengan penjelasan tersebut.
Tenang... Ini lah manfaatnya KGL bagi sedulur-sedulur semua. Segala informasi bisa dicari di sini.

Di Artikel kali ini admin coba untuk mengulas asal muasal tentang berdirinya desa Garung Lor dan kenapa bisa di namakan Garung. 

          Alkisah di zaman Para wali (Walisongo) di wilayah Kudus dipimpin oleh Kanjeng Sunan Kudus dan Kanjeng Sunan Muria di gunung Muria.
Sunan Kudus Jaffar Sodiq
Sunan Muria Raden Umar Said
Penyebaran Agama Islam pun dilakukan oleh kedua Tokoh Besar tersebut. Agama Islam pun diterima dan dianut oleh sebagian besar masyarakat pada saat itu. Ajaran kedua Tokoh bisa diterima oleh masyarakat karena dengan pendekatan melalui budaya dan seni serta mengutamakan adat istiadat yang berlaku di masyarakat. Sehingga masyarakat lebih mudah menerima ajaran Islam.

Kanjeng Sunan Kudus dan Kanjeng Sunan Muria terus menerus berdakwah di berbagai wilayah dan beberapa Santri pun diminta untuk membantu penyebaran ajaran Agama di pelosok-pelosok Desa sekitar kawasan Kudus.

Diantara murid dari Sunan Kudus dan Sunan Muria yang diutus adalah Muhammad Jailaniy yang oleh masyarakat dikenal dengan Mbah jelan dan Abdulloh. Yang di masyarakat dikenal dengan Mbah Dul Mufakattan karena sifat beliau yang mengedepankan asas musyawarah untuk mencari mufakat dalam berbagai urusan. Serta Raden Jolodoro cucu Sunan Muria. Mereka bertiga di perintahkan untuk mengembangkan dan menyebarkan Agama Islam di daerah yang masih gersang dan membabat hutan untuk dijadikan pemukiman serta sarana Dakwah.
Ilustrasi hutan belantara
Mereka bertiga diperintahkan ke arah barat dari pusat Kudus dan perjalanan mereka pun akhirnya sampai di sebuah hutan yang cukup lebat. Perjalanan pun dihentikan untuk sekedar beristirahat. Kyai Abdulloh meminta kepada seluruh santri dan masyarakat yang ikut dalam rombongan perjalanan segera beristirahat untuk melepaskan lelah dan menjalankan kewajiban Sholat.

Ketiga pemimpin rombongan pun berusaha untuk mencari tempat untuk ibadah dan memohon petunjuk dari Allah. Dan di dalam munajat beliau bertiga Allah memberikan petunjuk kepada mereka kalau di hutan tersebut mereka harus bermukim dan membabat hutan untuk dijadikan pemukiman dan lahan pertanian.

Keesokan harinya mereka bertiga mengadakan pertemuan untuk membahas tentang petunjuk yang telah diterima. Setelah adanya mufakat maka pada hari yang telah disepakati. Pembabatan hutan pun dimulai dan Kyai Jailaniy yang di minta untuk memimpin para Santri untuk membabat hutan. Kyai Abdulloh dan Raden Jolodoro pun ikut membantu dengan giat dan dengan bergotong royong. Tidak lama kemudian hutan yang tadinya lebat telah dibabat dan diatur untuk pemukiman dan lahan pertanian. Dan ada satu pohon yang begitu wangi serta diketahui pohon tersebut adalah pohon Garu Dan pemukiman baru tersebut dinamakan Garung. (Inilah asal muasal dari kata Garung)
Pohon Garu (Gaharu)
Kyai Abdulloh sebagai pimpinan pun segera memanggil dua temannya untuk membahas rencana ke depan pemukiman baru tersebut. Mereka bertiga berdiskusi tentang dawuh dari Kanjeng Sunan Kudus Dan Kanjeng Sunan Muria yang harus segera dilakukan. Yaitu pengembangan Ilmu Agama Islam. Maka dari itu perlu di dirikan masjid sebagai sarana dakwah dan mengajarkan ilmu keagamaan pada para penduduk. Dan di bangunlah sebuah masjid di pemukiman baru tersebut.

Hari berganti bulan bulan berganti tahun dan perkampungan baru semakin ramai. Kyai Jailaniy meminta pada Kyai Abdulloh untuk mendirikan pasar sebagai pusat perekonomian dan sebagai sarana untuk agar bisa berhubungan dengan Kadipaten Kudus. Dan Kyai Abdulloh pun diminta untuk sowan ke Kudus mengabarkan tentang berdirinya pemukiman atas restu dan dawuh Kanjeng Sunan yang telah di jalani oleh mereka. Kyai Abdulloh pun menyetujui apa yang dicita-citakan oleh Kyai Jailaniy. 

Kyai Abdulloh pun segera berangkat di ikuti beberapa warga untuk menghadap Kanjeng Sunan Kudus. Sesampainya di Kudus Kyai Abdulloh pun segera menghadap dan melaporkan seluruh hal yang terjadi dari awal sampai akhir. Dan Kanjeng Sunan Kudus pun memerintahkan putra Beliau Panembahan Kudus untuk turut serta melihat desa Garung yang telah ramai. Setelah beberapa lama kemudian tempat tersebut pun maju dengan adanya pasar dan pengakuan dari Kudus.

Kegiatan warga pun semakin terarah dengan bertani berdagang dengan berdasarkan ilmu pengetahuan yang di ajarkan oleh ketiga pimpinan mereka. Masyarakat hidup rukun damai dan sejahtera. Kehidupan beragama dan saling bertoleransi dengan umat lain pun digalakkan.
Makam beliau bertiga berada di desa garung lor Kec Kaliwungu Kudus dan masih dikeramatkan oleh warga sekitar. Bahkan di makam beliau-beliau setiap tahunnya diadakan upacara ganti Luwur. Jasa Beliau bertiga sangatlah besar dalam perkembangan Islam untuk membantu perjuangan Kanjeng Sunan Kudus dan Kanjeng Sunan Muria. Terutama dalam sejarah terbentuknya desa Garung.

Desa Garung yang sekarang telah dibagi menjadi dua desa. Yaitu Desa Garung Lor dan Desa Garung Kidul dan terdiri dari beberapa padukuhan. Di Garung Lor sendiri terbagi menjadi 2 dukuh. Yaitu dukuh Krajan dan dukuh Tersono.
Peta wilayah Garung Lor

Sekian sejarah singkat tentang desa Garung Lor yang berhasil admin KGL kumpulkan dari berbagai sumber. Semoga dengan artikel ini kita bisa lebih mencintai desa kita dan lebih menghormati jasa-jasa para leluhur yang telah mendirikan desa Garung.

Sejarah KGL

Visi dan Misi KGL

                        S elamat datang di blog resmi Kabar Garung Lor (KGL). Kami selaku team pengurus group KGL ingin mengembangkan...